Malang Corruption Watch menemukan indikasi maraknya politik uang
menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Malang, Jawa Timur,
pada 23 Mei 2013 mendatang. Menurut temuan MCW, praktik itu dilakukan
oleh bakal calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang.
"Dari temuan Malang Corruption Watch (MCW), jelang Pilkada Kota Malang, sudah mulai marak indikasi praktik politik uang yang dilakukan beberapa bakal calon. Praktik itu harus dilawan," ujar Ketua Dewan Pengurus Yayasan MCW Luthfi J Kurniawan, dalam jumpa pers di Hotel Ollino Garden, Minggu (27/1/2012), di Kota Malang.
Indikasi praktik politik uang tersebut, jelasnya, mulai dilakukan oleh beberapa tim sukses dengan cara mendekati warga yang memiliki hak pilih secara langsung. "Modusnya meminta KTP (Kartu Tanda Penduduk) dengan imbalan uang," katanya.
Para tim sukses juga melakukan beberapa pemberian hadiah, kompensasi, dan bantuan-bantuan secara langsung, baik kepada masyarakat dan lembaga masyarakat yang ada di Kota Malang. Selain dengan cara demikian, ungkap Luthfi, beberapa calon juga melakukan perjanjian politik berupa jaminan proyek kepada pengusaha lokal yang siap mendanai pemenangan Pilkada, jika nantinya terpilih.
"Politisi hitam sudah mulai menjalin kerja sama dengan para cukong atau pengusahasa lokal, dengan jaminan bisa menguasai proyek yang nantinya akan dibiayai oleh pemerintah daerah," jelasnya.
Praktik itu, kata Luthfi, sudah menyalahi etika politik. "Sangat tidak mendidik masyarakat. Bahkan ada yang sudah melakukan memobilisasi warga untuk mendukung salah satu calon dengan menggunakan fasilitas negara untuk alat-alat kampanye," kata dia.
MCW lanjut Luthfi, akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan dilapangan secara langsung. Jika terbukti melakukan praktik uang harus dilaporkan kepada pihak berwajib. MCW juga meminta, dalam pelaksanaan Pilkada nantinya, pihak KPUD dan Panwaslu selalu menjega independensi dan tidak berpihak pada salah satu calon atau partai tertentu.
"KPUD dan Panwaslu harus tegas jika terjadi pelanggaran," katanya.
"Dari temuan Malang Corruption Watch (MCW), jelang Pilkada Kota Malang, sudah mulai marak indikasi praktik politik uang yang dilakukan beberapa bakal calon. Praktik itu harus dilawan," ujar Ketua Dewan Pengurus Yayasan MCW Luthfi J Kurniawan, dalam jumpa pers di Hotel Ollino Garden, Minggu (27/1/2012), di Kota Malang.
Indikasi praktik politik uang tersebut, jelasnya, mulai dilakukan oleh beberapa tim sukses dengan cara mendekati warga yang memiliki hak pilih secara langsung. "Modusnya meminta KTP (Kartu Tanda Penduduk) dengan imbalan uang," katanya.
Para tim sukses juga melakukan beberapa pemberian hadiah, kompensasi, dan bantuan-bantuan secara langsung, baik kepada masyarakat dan lembaga masyarakat yang ada di Kota Malang. Selain dengan cara demikian, ungkap Luthfi, beberapa calon juga melakukan perjanjian politik berupa jaminan proyek kepada pengusaha lokal yang siap mendanai pemenangan Pilkada, jika nantinya terpilih.
"Politisi hitam sudah mulai menjalin kerja sama dengan para cukong atau pengusahasa lokal, dengan jaminan bisa menguasai proyek yang nantinya akan dibiayai oleh pemerintah daerah," jelasnya.
Praktik itu, kata Luthfi, sudah menyalahi etika politik. "Sangat tidak mendidik masyarakat. Bahkan ada yang sudah melakukan memobilisasi warga untuk mendukung salah satu calon dengan menggunakan fasilitas negara untuk alat-alat kampanye," kata dia.
MCW lanjut Luthfi, akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan dilapangan secara langsung. Jika terbukti melakukan praktik uang harus dilaporkan kepada pihak berwajib. MCW juga meminta, dalam pelaksanaan Pilkada nantinya, pihak KPUD dan Panwaslu selalu menjega independensi dan tidak berpihak pada salah satu calon atau partai tertentu.
"KPUD dan Panwaslu harus tegas jika terjadi pelanggaran," katanya.
Editor :
Inggried Dwi Wedhaswary
http://regional.kompas.com/
Inggried Dwi Wedhaswary
http://regional.kompas.com/

